Lompat ke konten utama
Sekolah Rakyat Jadi Harapan Baru bagi Keluarga Miskin untuk Bangkit dan Berdaya

Sekolah Rakyat Jadi Harapan Baru bagi Keluarga Miskin untuk Bangkit dan Berdaya

Kabar Terbaru 04 Juni 2026

Program Sekolah Rakyat terus berkembang sebagai salah satu upaya pemerintah menghadirkan akses pendidikan yang lebih inklusif bagi masyarakat miskin dan miskin ekstrem di berbagai daerah di Indonesia. Lebih dari sekadar menyediakan pendidikan, Sekolah Rakyat dirancang menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat agar keluarga prasejahtera memiliki kesempatan yang lebih besar untuk bangkit, mandiri, dan keluar dari lingkaran kemiskinan antargenerasi.

Hingga 26 April 2026, tercatat terdapat 166 Sekolah Rakyat rintisan yang tersebar di 34 provinsi dengan total 14.936 siswa dari jenjang SD, SMP, hingga SMA. Jumlah tersebut terdiri dari 2.748 siswa SD, 5.759 siswa SMP, dan 6.428 siswa SMA yang tersebar dalam 638 rombongan belajar (rombel), yakni 121 rombel SD, 242 rombel SMP, dan 275 rombel SMA.

Kehadiran Sekolah Rakyat menjadi harapan baru bagi banyak keluarga prasejahtera yang selama ini menghadapi keterbatasan akses pendidikan. Melalui program ini, pemerintah tidak hanya membuka ruang belajar bagi anak-anak dari keluarga rentan, tetapi juga memperkuat upaya pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak dini.

Pendidikan dipandang sebagai fondasi utama untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Dengan akses pendidikan yang layak dan berkualitas, anak-anak dari keluarga miskin memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik di masa depan. Karena itu, Sekolah Rakyat diharapkan mampu menjadi jalan bagi keluarga prasejahtera untuk membangun kemandirian ekonomi dan sosial secara berkelanjutan.

Selain pengembangan sekolah rintisan, pemerintah juga terus mempercepat pembangunan Sekolah Rakyat permanen. Saat ini, sebanyak 93 Sekolah Rakyat telah memasuki tahap II pembangunan sebagai bagian dari penguatan infrastruktur pendidikan yang lebih layak, nyaman, dan berkelanjutan.

Pada tahun ajaran 2025/2026, daya tampung Sekolah Rakyat mencapai 166 lokasi dengan total 598 rombel yang terdiri dari 110 rombel SD, 231 rombel SMP, dan 257 rombel SMA. Dari kapasitas tersebut, sekolah mampu menampung sekitar 14.950 siswa, terdiri dari 2.746 siswa SD, 5.771 siswa SMP, dan 6.433 siswa SMA.

Pemerintah menargetkan kapasitas Sekolah Rakyat akan meningkat secara signifikan pada tahun ajaran 2026/2027. Jumlah lokasi sekolah ditargetkan bertambah menjadi 183 lokasi dengan total 1.640 rombel. Rinciannya meliputi 389 rombel SD, 530 rombel SMP, dan 556 rombel SMA dengan target penerimaan mencapai 44.636 siswa, terdiri dari 12.021 siswa SD, 15.990 siswa SMP, dan 16.625 siswa SMA.

Perluasan kapasitas tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperluas jangkauan pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan. Semakin banyak anak dari keluarga miskin yang dapat mengakses pendidikan berkualitas, semakin besar peluang terciptanya mobilitas sosial dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di masa mendatang.

Peningkatan kapasitas juga dibarengi dengan penyempurnaan sistem pembelajaran di Sekolah Rakyat. Pada 2025, pemerintah telah menyusun 322 modul pembelajaran dari 63 mata pelajaran, terdiri atas 83 modul SD, 102 modul SMP, dan 137 modul SMA.

Sementara pada 2026, pemerintah akan memperkuat sistem pendidikan Sekolah Rakyat melalui penetapan Peraturan Menteri Sosial tentang kurikulum Sekolah Rakyat sebagai amanat Pasal 16 Peraturan Presiden Nomor 120 Tahun 2025. Selain itu, pemerintah juga tengah merancang sistem manajemen pembelajaran terintegrasi secara digital, mulai dari Sistem Informasi Akademik (SIAKAD), Learning Management System (LMS), hingga e-rapor.

Penyusunan modul pembelajaran juga terus ditingkatkan dengan target penyelesaian 392 modul SD, 92 modul SMP, dan 212 modul SMA. Pemerintah turut menyiapkan petunjuk teknis kurikulum serta kajian implementasi kurikulum agar proses belajar mengajar dapat berjalan lebih efektif, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan siswa.

Pada Juli 2026, pemerintah menargetkan sebanyak 32.640 siswa baru akan diterima di Sekolah Rakyat. Proses penerimaan dilakukan secara selektif dan tepat sasaran, yakni bagi anak-anak yang terdata dalam DTSEN desil 1 dan 2, telah melalui verifikasi lapangan oleh pendamping PKH, BPS, dan pemerintah daerah, memperoleh persetujuan orang tua atau wali, serta ditetapkan oleh kepala daerah sebagai calon siswa Sekolah Rakyat.

Tahun 2026 juga menjadi momentum penting karena Sekolah Rakyat akan meluluskan angkatan pertamanya sebanyak 453 siswa yang terdiri dari 329 lulusan SD, 113 lulusan SMP, dan 11 lulusan SMA. Kehadiran lulusan pertama ini menjadi tonggak awal keberhasilan program Sekolah Rakyat dalam membuka akses pendidikan yang lebih merata sekaligus memperkuat harapan keluarga prasejahtera untuk memiliki masa depan yang lebih baik.

Melalui penguatan infrastruktur, peningkatan kualitas pembelajaran, dan perluasan akses pendidikan, Sekolah Rakyat diharapkan menjadi salah satu instrumen strategis pemerintah dalam memperkuat pemberdayaan masyarakat, menciptakan generasi unggul, serta mempercepat pengentasan kemiskinan di Indonesia.

Biro Komunikasi Pengelolaan Data dan Informasi

Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat

Alat Aksesibilitas