Lompat ke konten utama
Menko Muhaimin: Santri Harus Melek Finansial agar Tak Jadi Korban Kejahatan Digital

Menko Muhaimin: Santri Harus Melek Finansial agar Tak Jadi Korban Kejahatan Digital

Siaran Pers 04 Agustus 2026

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) A. Muhaimin Iskandar menegaskan bahwa literasi keuangan harus menjadi bagian penting dari pendidikan pesantren agar para santri mampu menghadapi tantangan era digital sekaligus terhindar dari berbagai kejahatan finansial seperti judi online, pinjaman online ilegal, hingga penipuan digital.

Hal itu disampaikan Menko Muhaimin saat menghadiri kegiatan Sosialisasi Literasi Keuangan Lembaga Penjamin Simpanan di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Musri, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Selasa (04/08/2026).

Menurut Menko Muhaimin, pesantren memiliki modal kuat untuk melahirkan generasi yang mandiri. Selain kokoh dalam ilmu agama dan akhlak, pesantren juga harus mampu membekali santri dengan pengetahuan yang relevan terhadap perkembangan zaman, termasuk literasi keuangan dan literasi digital.

"Pesantren harus terus menjaga semangat kemandirian. Dari kemandirian itulah kita bisa mengatasi kemiskinan, keterbelakangan, dan berbagai bentuk penindasan. Santri tidak cukup hanya alim dalam ilmu agama, tetapi juga harus cakap menghadapi tantangan ekonomi dan teknologi," ujar Muhaimin.

Ia menilai rendahnya literasi keuangan menjadi salah satu penyebab masih banyak masyarakat yang menjadi korban kejahatan digital. Mulai dari penyalahgunaan identitas untuk pembukaan rekening, investasi bodong, hingga jeratan pinjaman online ilegal yang terus memakan korban.

"Hampir setiap hari kita menghadapi masyarakat yang menjadi korban judi online maupun pinjaman online. Banyak yang tertipu karena kurang memahami cara mengelola keuangan dan perkembangan teknologi. Karena itu, literasi keuangan menjadi kebutuhan yang sangat mendesak," katanya.

Menko Muhaimin mengapresiasi kolaborasi dengan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam memperluas literasi keuangan di lingkungan pesantren. Menurutnya, upaya tersebut menjadi langkah nyata untuk membangun kesadaran masyarakat agar lebih bijak dalam mengelola keuangan sekaligus mampu melindungi diri dari berbagai modus kejahatan finansial.

Selain literasi keuangan, ia juga mendorong penguatan literasi teknologi, media sosial, dan berbagai platform digital agar masyarakat, khususnya kalangan santri, mampu memanfaatkan kemajuan teknologi secara produktif.

Dalam kesempatan tersebut, Menko Muhaimin menegaskan bahwa seluruh program pemerintah yang dilaksanakannya di Cianjur merupakan bagian dari satu agenda besar, yakni pemberdayaan masyarakat. Mulai dari penguatan literasi keuangan di pesantren, pembangunan 10.000 fasilitas MCK untuk pesantren, hingga penyiapan tenaga kerja terampil agar siap bekerja di luar negeri secara aman dan profesional.

"Semua ini adalah bagian dari pemberdayaan. Kami ingin pesantren menjadi agen pemberdayaan masyarakat sekaligus pemutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan, penguatan ekonomi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia," ujarnya.

Ia berharap pesantren terus melakukan transformasi tanpa meninggalkan jati dirinya sebagai pusat pendidikan dan pembinaan umat. Dengan demikian, pesantren dapat melahirkan generasi yang mandiri secara ekonomi, berpegang teguh pada nilai-nilai keagamaan, serta mampu menjawab tantangan zaman.

"Kami akan terus mendorong agar pesantren menjadi kekuatan utama dalam membangun masyarakat yang lebih maju, sejahtera, dan berdaya," pungkas Menko Muhaimin.

Nomor: 165/HM.04/07/2026

Instagram: @kemenkopmri
TikTok: @kemenkopm
X: @kemenkopmri

Biro Komunikasi Pengelolaan Data dan Informasi
Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat

Biro Komunikasi Pengelolaan Data dan Informasi

Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat

Alat Aksesibilitas