Karya dari Kesempatan: Ketika Penyandang Disabilitas Tumbuh dan Berdaya
Kesempatan untuk berkarya seharusnya terbuka bagi siapa saja, termasuk penyandang disabilitas. Sebab, ketika ruang dan dukungan diberikan, mereka tidak hanya mampu menghasilkan karya, tetapi juga bisa tumbuh mandiri dan berdaya secara ekonomi.
Semangat itulah yang dibangun Kelompok Kresna Patra atau Kreasi Inklusi Nusantara di Boyolali. Di kelompok ini, penyandang disabilitas tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi terlibat langsung dalam proses produksi berbagai produk yang memiliki nilai ekonomi.
Ketua Kelompok Kresna Patra, Sri Setyaningsih, mengatakan produk yang dihasilkan dibuat langsung oleh penyandang disabilitas dengan beragam ragam disabilitas, mulai dari disabilitas fisik, tuli, hingga disabilitas intelektual.
Ada pakaian jadi, batik tulis, hingga goodie bag dan produk lainnya. Untuk pakaian dan goodie bag, proses menjahitnya juga dilakukan langsung oleh penyandang disabilitas yang tergabung dalam kelompok tersebut.
Bagi Sri, proses pemberdayaan tidak bisa berhenti pada memberikan pelatihan. Setiap orang memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda sehingga pendekatannya pun harus disesuaikan.
Sebelum mengikuti pelatihan, peserta terlebih dahulu menjalani asesmen untuk mengetahui kondisi, ragam dan tingkat disabilitas, latar belakang, hingga kondisi sosial mereka. Dari sana, pelatihan dan pendampingan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing peserta.
“Jadi sebelum ikut pelatihan, kami melakukan assessment dulu supaya tahu kondisi mereka, jenis disabilitasnya, tingkat disabilitasnya, status sosial dan latar belakangnya. Dari situ kami menentukan bagaimana melatih dan mendampingi mereka,” kata Sri.
Program pelatihan tersebut dijalankan melalui kolaborasi Kreasi Inklusi Nusantara sejumlah pihak. Lama pelatihannya pun tidak selalu sama, ada yang berlangsung selama 18 hari, sementara pelatihan lainnya bisa mencapai 46 hari.
Setelah menyelesaikan pelatihan, peserta mendapatkan sertifikat sebagai bentuk pengakuan atas keterampilan yang telah mereka pelajari. Sertifikat tersebut menjadi salah satu bekal agar kompetensi mereka semakin diakui dan dapat dikembangkan untuk bekerja maupun menjalankan usaha.
Dari proses inilah pemberdayaan menjadi lebih dari sekadar bantuan. Penyandang disabilitas mendapatkan kesempatan untuk belajar, memiliki keterampilan, menghasilkan produk, dan memperoleh penghasilan dari karya yang mereka buat sendiri.
Setiap pakaian yang dijahit, setiap kain yang dibatik, hingga setiap goodie bag yang dihasilkan menjadi bagian dari perjalanan untuk membangun kemandirian. Di balik produk-produk tersebut, ada keterampilan, ketekunan, dan kepercayaan diri yang terus tumbuh.
Sri berharap semakin banyak penyandang disabilitas yang berani mengembangkan kemampuan dan tidak berhenti mencoba.
“Bagi teman-teman disabilitas, jangan patah semangat. Terus berkarya dan buktikan bahwa keterbatasan bukanlah hambatan, tapi cambuk untuk meniti masa depan,” ujarnya.
Kisah Kreasi Inklusi Nusantara menunjukkan bahwa pemberdayaan yang inklusif dimulai dari satu hal sederhana, yaitu memberikan kesempatan. Ketika kesempatan itu hadir, penyandang disabilitas pun dapat menunjukkan kemampuan, menghasilkan karya, dan mengambil peran dalam menggerakkan ekonomi di lingkungannya.
Biro Komunikasi Pengelolaan Data dan Informasi
Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat
Rekomendasi
Menko Muhaimin dan Menko Sugiono Dorong Link and Match Pendidikan untuk Tekan Kemiskinan
Kemenko PM Dorong Inovasi Berdayakan Masyarakat Desa Lewat Mandaya Awards dan Innovilleague 2026
Dua Tahun Pemberdayaan, Menko Muhaimin: Bansos Sementara, Berdaya Selamanya
Menko PM: Ekosistem Terpadu Kunci Kemajuan UMKM