Dari Bertahan Menjadi Berdaya: Kisah Ibu-Ibu Mengubah Hidup Keluarga
Tidak semua perempuan memulai usaha dengan rencana yang matang. Sebagian justru memulainya karena hidup memaksa mereka untuk bertahan.
Begitulah yang dialami Tati Anitaharyati. Sebelum dikenal sebagai penjual kerupuk kulit ikan tuna, hidupnya dipenuhi ketidakpastian. Ia berpindah-pindah usaha, mulai dari menjual canang, pakaian, hingga berbagai barang lain yang tak pernah benar-benar berkembang. Apa pun yang bisa dijual, ia coba. Namun hasilnya tetap belum mampu mengubah keadaan ekonomi keluarganya.
Masa-masa itu menjadi fase yang paling berat dalam hidupnya. Kesulitan ekonomi yang berkepanjangan bahkan membuat rasa percaya dirinya perlahan menghilang. Ia merasa canggung bertemu orang lain karena khawatir dipandang sebagai seseorang yang sedang membutuhkan bantuan atau ingin meminjam uang.
Perubahan mulai datang ketika ia memperoleh kesempatan dari Program Permodalan Nasional Madani (PNM) Mekaar untuk membangun usaha dengan lebih terarah. Tidak hanya memperoleh akses pembiayaan, ia juga mendapatkan pendampingan yang membantunya lebih percaya diri mengelola usaha. Dari situlah ia memutuskan untuk fokus mengembangkan kerupuk kulit ikan tuna sebagai produk utamanya.
Perlahan, usaha yang sebelumnya hanya sekadar bertahan kini menjadi sumber penghasilan yang lebih stabil bagi keluarganya. Bagi Tati, yang berubah bukan hanya kondisi ekonomi, tetapi juga keyakinan bahwa ia mampu berdiri di atas usahanya sendiri.
Kisah Tati hanyalah satu dari sekian banyak cerita perempuan Indonesia yang berjuang melalui usaha kecil. Di Bali, Sunarmiati telah menghabiskan lebih dari sepuluh tahun menjajakan jajanan tradisional. Jalan yang ditempuhnya juga tidak mudah.
Pada masa awal berjualan, dagangannya sering kali hanya terjual satu atau dua porsi setiap pagi. Modal yang terbatas membuat usahanya sulit berkembang karena penghasilan yang diperoleh hampir selalu habis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Seiring waktu, kesempatan untuk memperoleh akses pembiayaan dan pendampingan membuatnya mampu mengelola usahanya dengan lebih baik. Sedikit demi sedikit, usaha kecil yang dulu hanya bertahan dari hari ke hari kini menjadi penopang ekonomi keluarga.
Cerita serupa datang dari Khairunnisa. Dari rumahnya, ia membuat berbagai kerajinan tangan, mulai dari dream catcher, gantungan kunci, hingga aksesori. Awalnya, usaha itu lahir dari keinginannya membantu suami memenuhi kebutuhan keluarga sambil tetap mendampingi anak di rumah.
Membangun usaha dari nol tentu bukan perkara mudah. Ia harus belajar mengatur modal yang terbatas, mencari pelanggan, hingga memastikan usahanya tetap berjalan. Namun ketekunan membuat hasil karyanya perlahan dikenal, bahkan menjadi sumber tambahan penghasilan yang membantu ekonomi keluarga.
Ketiga perempuan tersebut memiliki latar belakang yang berbeda. Ada yang berjualan makanan tradisional, mengolah hasil laut, hingga membuat kerajinan tangan. Namun mereka memiliki satu kesamaan, yaitu tidak menyerah ketika keadaan memaksa mereka untuk berhenti.
Karena itu, pemberdayaan sejatinya bukan sekadar menghadirkan akses pembiayaan. Pemberdayaan adalah tentang menghadirkan kesempatan. Kesempatan bagi seorang ibu untuk memulai kembali ketika usahanya gagal. Kesempatan untuk belajar mengelola usaha dengan lebih baik dan yang paling penting, kesempatan untuk kembali percaya pada dirinya sendiri.
Ketika seorang ibu mampu mengembangkan usahanya, manfaatnya tidak berhenti pada dirinya. Pendapatan keluarga meningkat, kebutuhan anak-anak lebih terpenuhi, dan roda ekonomi di lingkungan sekitar ikut bergerak.
Komitmen pemerintah untuk memperluas akses pembiayaan bagi keluarga prasejahtera menjadi salah satu langkah untuk memperkuat ekosistem tersebut. Presiden Prabowo Subianto bahkan menginstruksikan agar bunga pembiayaan bagi keluarga prasejahtera melalui Permodalan Nasional Madani (PNM) diturunkan menjadi 8 persen. Kebijakan ini diharapkan semakin memudahkan pelaku usaha ultra mikro, khususnya perempuan, memperoleh akses pembiayaan yang lebih terjangkau sehingga mereka dapat terus mengembangkan usahanya.
Pada akhirnya, kisah Tati, Sunarmiati, dan Khairunnisa menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali lahir dari langkah-langkah kecil yang dijalani dengan penuh ketekunan. Dari dapur, teras rumah, hingga sudut-sudut pasar, mereka membuktikan bahwa perempuan bukan hanya penopang keluarga, tetapi juga penggerak ekonomi yang menghadirkan harapan baru bagi masa depan keluarganya.
Biro Komunikasi Pengelolaan Data dan Informasi
Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat
Rekomendasi
Menko Muhaimin dan Menko Sugiono Dorong Link and Match Pendidikan untuk Tekan Kemiskinan
Kemenko PM Dorong Inovasi Berdayakan Masyarakat Desa Lewat Mandaya Awards dan Innovilleague 2026
Dua Tahun Pemberdayaan, Menko Muhaimin: Bansos Sementara, Berdaya Selamanya
Menko PM: Ekosistem Terpadu Kunci Kemajuan UMKM