Lompat ke konten utama
Dari Bansos ke Usaha Mandiri, Perjalanan Ibu Sandi Menjadi Berdaya

Dari Bansos ke Usaha Mandiri, Perjalanan Ibu Sandi Menjadi Berdaya

Kabar Terbaru 31 Agustus 2026

Bagi Ibu Sandi, bantuan sosial bukanlah sesuatu yang harus diterima selamanya. Bantuan, menurutnya, adalah pegangan sementara untuk membantu keluarga bangkit hingga mampu berdiri dengan kekuatan sendiri.

 

Perjalanan itu kini ia rasakan sendiri. Sebagai ibu rumah tangga, Ibu Sandi pernah menerima bantuan melalui Program Pemberdayaan Sosial Ekonomi (PPSE), sebuah program dari Kementerian Sosial Republik Indonesia yang memberikan dukungan modal usaha senilai Rp5 juta dalam bentuk barang.

 

Bantuan tersebut kemudian menjadi salah satu pijakan bagi Ibu Sandi untuk mengembangkan usaha. Bersama keluarganya, ia membuka usaha katering dan berjualan aneka makanan, termasuk camilan kerupuk.

 

Pilihan usaha tersebut bukan tanpa alasan. Suaminya yang sebelumnya bekerja sebagai koki memiliki pengalaman dan kemampuan di bidang kuliner. Dari pengalaman itulah, keduanya mencoba membangun usaha makanan untuk menopang kebutuhan keluarga.

 

Namun, perjalanan keluarga Ibu Sandi tidak selalu mudah. Sang suami telah lama mengalami gagal ginjal dan harus menjalani hemodialisis secara rutin.

 

Di tengah kebutuhan hidup sehari-hari dan biaya pengobatan yang harus dihadapi, keluarga ini juga mendapatkan perlindungan kesehatan melalui Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan Nasional.

 

Bagi Ibu Sandi, jaminan kesehatan tersebut memberikan rasa tenang. Ketika usaha mulai menghasilkan pemasukan, keluarganya tidak harus menghadapi beban biaya pengobatan yang semakin berat.

 

“Saya merasa terbantu akibat PBI, karena pemasukan ada, biaya kesehatan keluarga juga sudah tercover,” ujar Ibu Sandi.

 

Usahanya pun perlahan berkembang. Hingga pada satu titik, Ibu Sandi merasa keluarganya sudah mampu memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri.

 

Ia kemudian mengajukan graduasi dari kepesertaan bantuan sosial. Pengajuan tersebut akhirnya disetujui pada tahun 2025. Keputusan itu lahir dari kesadaran sederhana bahwa bantuan sosial seharusnya menjadi jembatan untuk bangkit, bukan tempat untuk berhenti.

 

“Menurut saya bansos itu hanya sementara, karena saya sudah merasa cukup bisa meng-cover biaya hidup bagi keluarga,” katanya.

 

Kisah Ibu Sandi menjadi gambaran bagaimana kebijakan perlindungan dan pemberdayaan dapat berjalan saling melengkapi. Dukungan modal usaha membuka peluang untuk memperoleh penghasilan, sementara perlindungan kesehatan memberi ruang bagi keluarga untuk tetap bertahan dan mengembangkan usaha tanpa terbebani biaya pengobatan.

 

Menko Pemberdayaan Masyarakat A. Muhaimin Iskandar menegaskan bahwa pembangunan yang berpihak kepada rakyat merupakan fondasi utama untuk mewujudkan Indonesia yang lebih mandiri, berdaya saing, dan berkeadilan.

 

“Yang paling penting adalah masyarakat benar-benar merasakan manfaat dari setiap kebijakan yang diambil pemerintah. Ketika akses terbuka, kesempatan semakin luas, dan kesejahteraan meningkat, di situlah pembangunan telah mencapai tujuannya,” ujar Menko Muhaimin.

 

Semangat tersebut tercermin dalam perjalanan Ibu Sandi. Bantuan yang diterimanya menjadi bantalan ketika keluarga menghadapi masa sulit, sementara akses terhadap pemberdayaan dan perlindungan sosial membuka kesempatan bagi keluarganya untuk membangun kemandirian.

 

Pada akhirnya, keberhasilan pemberdayaan bukan hanya tentang berapa banyak bantuan yang disalurkan. Lebih dari itu, keberhasilan sesungguhnya terlihat ketika masyarakat memiliki kesempatan untuk bangkit dan mampu melanjutkan hidup dengan kekuatan sendiri.

 

Bagi Ibu Sandi, titik itu datang ketika ia merasa cukup kuat untuk melepaskan bantuan yang pernah menopangnya dan membuka ruang bagi mereka yang masih lebih membutuhkan.

Biro Komunikasi Pengelolaan Data dan Informasi

Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat

Alat Aksesibilitas