Belajar dari Atlet Amputee Football, Menko Muhaimin Dorong Pemberdayaan yang Inklusif
Di lapangan hijau BRILiaN Stadium, Cipete, Jakarta Selatan, langkah para pemain Amputee Football Indonesia menjadi pemandangan yang sulit dilewatkan. Berlari menggunakan tongkat kruk tanpa kaki prostetik, mereka bergerak lincah mengejar bola, melakukan umpan-umpan akurat, hingga mencetak gol dengan kecepatan yang bahkan membuat banyak pemain non-disabilitas kewalahan mengimbanginya.
Di antara para pemain yang ikut merumput dalam laga ekshibisi bertajuk ‘Sepak Bola Tanpa Batas’, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar merasakan langsung bagaimana para atlet itu bermain. Pertandingan tersebut bukan sekadar ajang persahabatan, melainkan menjadi ruang untuk belajar tentang arti ketangguhan, disiplin, dan kesetaraan.
Alih-alih ingin menunjukkan kemampuan bermain sepak bola, Menko Muhaimin justru mengaku ingin merasakan seperti apa menghadapi atlet-atlet yang sesungguhnya.
"Karena mereka atlet, dan saya ingin tahu rasanya dikalahkan atlet betulan. Serius. Mereka ini pesepakbola sungguhan yang jarang mendapat panggung. Hari ini panggungnya kami sediakan. Harusnya lebih sering," ucapnya.
Ucapan itu lahir dari pengalaman yang nyata. Di lapangan, para atlet Amputee Football Indonesia memperlihatkan kualitas permainan yang tidak kalah dengan pesepak bola profesional. Dengan keseimbangan tubuh yang terjaga, kecepatan yang mengagumkan, dan determinasi tinggi, mereka membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak pernah menjadi batas untuk meraih prestasi.
Di balik kemampuan tersebut, tersimpan perjalanan hidup yang tidak mudah. Salah satunya adalah Adit, pemain Tim Nasional Amputee Football Indonesia. Cedera yang semula dialaminya berujung pada amputasi akibat penanganan yang tidak tepat. Kehilangan salah satu kaki membuat hidupnya berubah bahkan ada masa ketika ia kehilangan arah, menutup diri dari lingkungan, bahkan merasa tidak lagi memiliki harapan.
Namun sepak bola menghadirkan kesempatan kedua. Melalui amputee football, Adit perlahan menemukan kembali semangat hidupnya. Dari latihan demi latihan, rasa percaya diri yang sempat hilang tumbuh kembali. Kini ia bukan hanya kembali bermain sepak bola, tetapi juga dipercaya memperkuat Tim Nasional Indonesia dalam berbagai kejuaraan internasional.
Cerita serupa juga hidup dalam diri banyak pemain lainnya. Ada yang sempat berhenti bermimpi, ada yang merasa masa depannya telah berakhir. Namun olahraga mempertemukan mereka dengan komunitas yang saling menguatkan dan membuktikan bahwa kehilangan anggota tubuh tidak berarti kehilangan masa depan.
Pengalaman itulah yang menurut Menko Muhaimin menjadi pelajaran penting bagi semua pihak. Penyandang disabilitas tidak membutuhkan belas kasihan, melainkan kesempatan yang setara untuk menunjukkan kemampuan dan prestasi yang mereka miliki.
"Saya belajar banyak dari para atlet hari ini. Mereka membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berprestasi. Semangat, disiplin, dan keberanian mereka menjadi inspirasi bagi kita semua untuk membangun Indonesia yang lebih inklusif," kata Menko Muhaimin.
Bagi Kemenko PM, pemberdayaan masyarakat tidak boleh meninggalkan siapa pun. Inklusivitas bukan sekadar menyediakan fasilitas yang ramah disabilitas, tetapi juga memastikan setiap warga negara memiliki peluang yang sama untuk belajar, bekerja, berprestasi, dan berkontribusi bagi pembangunan.
Semangat itulah yang turut diwujudkan melalui penyerahan beasiswa Program Sarjana (S1) Universitas Siber Indonesia kepada enam atlet Amputee Football Indonesia. Beasiswa tersebut menjadi bentuk dukungan agar para atlet dapat terus mengembangkan kapasitas diri melalui pendidikan tinggi tanpa harus meninggalkan karier mereka di dunia olahraga.
Pendidikan dan olahraga merupakan dua pintu penting menuju pemberdayaan. Ketika keduanya dapat diakses secara setara, setiap individu memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi terbaiknya, apa pun latar belakang maupun kondisi fisiknya.
Turnamen ‘Sepak Bola Tanpa Batas’ pada akhirnya menghadirkan makna yang jauh melampaui sebuah pertandingan. Di lapangan itu, para atlet Amputee Football Indonesia tidak hanya memperlihatkan kemampuan mengolah bola, tetapi juga mengajarkan tentang keberanian bangkit setelah kehilangan, tentang ketekunan yang mengalahkan keterbatasan, dan tentang keyakinan bahwa prestasi selalu berawal dari kesempatan.
Dari mereka, kita belajar bahwa masyarakat yang inklusif bukanlah masyarakat yang sekadar menerima perbedaan. Masyarakat yang inklusif adalah masyarakat yang memberi ruang, membuka kesempatan, dan menghargai setiap orang atas kemampuan yang dimilikinya. Sebab ketika kesempatan diberikan secara setara, tidak ada batas bagi siapa pun untuk tumbuh, berdaya, dan menginspirasi.
Biro Komunikasi Pengelolaan Data dan Informasi
Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat
Rekomendasi
Menko Muhaimin dan Menko Sugiono Dorong Link and Match Pendidikan untuk Tekan Kemiskinan
Kemenko PM Dorong Inovasi Berdayakan Masyarakat Desa Lewat Mandaya Awards dan Innovilleague 2026
Dua Tahun Pemberdayaan, Menko Muhaimin: Bansos Sementara, Berdaya Selamanya
Menko PM: Ekosistem Terpadu Kunci Kemajuan UMKM